Nasi Pahit
Pagi ini mentari agak murung. Segerombolan awan mendung menutupi hampir seluruh lapisan atomosfer Indonesia.
Sebuah rumah mungil di pedesaan menampakkan kepulan asap dari atap bagian belakangnya. Suara-suara gemlontang panci dan wajan pun terdengar beriringan begitu merdunya. Sesekali bau gurih ikan asin yang digoreng telanjang tercium dari luar. Alhamdulillah, sepertinya seluruh anggota penghuni rumah pagi ini masih bisa merasakan nikmatnya sarapan.
Jam dinding menunjukkan pukul 7, seluruh penghuni rumah mulai bergegas berangkat ke rutinitas masing-masing.
Mbah Uti mengawalinya dengan mengayun sepeda menuju Paud. Ibuk baru saja mengantar Ruhma ke Makdenya, dan biasanya sebentar lagi akan menyusul Mbah Uti ke Paud. Sedangkan Mbah Kung seperti biasa menikmati masa pensiunnya dengan bersih-bersih di kebun. Tapi hari ini ada yang berbeda.
Bapak belum bangun.
"Bapak, Ibuk berangkat dulu ya. Jangan lupa, nanti kunyitnya diminum.", pesan Ibuk, sambil membetulkan kerudungnya.
"Hmmm..", jawab Bapak.
Hari ini Bapak agak demam. Sudah 3 hari Bapak mengeluh tidak enak badan. Sepertinya memang sudah waktunya Bapak untuk istirahat sebentar, setelah 18 jam dalam sehari berusaha menjadi Supermen. Dunia tak punya belas kasihan.
Terbaring di kasur, sambil menikmati nyeri di sekujur tubuhnya, tiba-tiba Bapak mendengar suara lantang dari pintu kamar.
"Mau dipijit??", Mbah Kung bertanya.
"Bapak. Enghh.. Ndak ah, makasih. Nyeri.", jawab Bapak.
"Ya sudah, mbok sana sarapan dulu!", suruh Mbah Kung, dengan gaya bicaranya yang khas.
"Nggeh", jawab Bapak.
Kalau Bapak sudah sakit, hampir setengah stabilitas kehidupan di rumah menjadi terganggu. Tidak ada yang manasin motor, tidak ada yang ngepel teras, tidak ada yang bisa jadi driver keluarga. Dan yang paling berbahaya lagi adalah, tidak ada yang bisa menggantikan Mbah Kung ngimami shalat berjamaah dan ngajar ngaji di Musholla.
Bukan hanya kaumnya yang kapiran, tapi psikis Mbah Kung lah yang paling kami khawatirkan. Takut bagaimana nasib kaum, takut bagaimana nasib Musholla, takut jika sewaktu-waktu dia mangkat, tidak ada penggantinya.
Hari sepertinya sudah semakin siang, tapi matahari masih saja belum nampak. Namun alhamdulillah, Bapak sudah berusaha beranjak dari tempat tidurnya.
Dengan mengenakan pakaian serba tertutup lengkap dengan kaos kaki, sambil sempoyongan ia berusaha mengambil nasi untuk sarapan.
Ruang tengah menjadi tempat terbaik untuk melangsungkan hidup. Sebuah ranjam serbaguna, satu meja dan satu kursi, karpet di lantai penuh mainan, dan sebuah dipet tua tempat tv yang chanelnya itu-itu saja. Tempat paling aman kedua untuk bersantai, setelah kamar.
Suapan demi suapan masuk ke kerongkongan. Pahit, kasar. Lambung pun seperti menolak mereka masuk ke dalamnya.
Baru beberapa suapan, terdengar suara lagi dari ruang belakang. Kali ini terdengar begitu halus.
"Berjuang, itu harus dengan hati yang ikhlas..", ujar Mbah Kung.
".....", Bapak melanjutkan sarapannya.
Kata-kata ini bukan kali pertama Bapak dengar dari mulut Mbah Kung. Penuh makna. Dan merupakan pitutur luhur dari Orang Sepuh yang sepertinya memang harus dijalankan tanpa Tapi.
Namun, kernyitan di dahi Bapak seperti menyampaikan banyak hal.
Marah, kecewa, menyesal, sedih..!! Tak tau harus berkata apa, dan harus berbuat apa.
@$%#&*(#£×¥..!!??
Nasi yang tadinya hambar kini menjadi asin, karena tetesan air mata.
............

Komentar
Posting Komentar